Mengapa Musik Indie solo nggak ngangkat

Kamis, 27 Mei 2010 komentar

Hummm… dari tahun ketahun aku bergelut di dunia musik lokal.. terutama di kota solo,membuatku sedikit gemas!… begitu banyak nasib ‘talented young musician’ yang berakhir mengenaskan. karya-karya mereka nggak ter apresiasi dengan baik oleh orag-orang di sekitar mereka. Kadang timbul rasa iri dengan band-band indie




kota tetangga yang mampu bersatu bahu membahu dan berkembang dengan pesat.. setelah beberapa saat mencari dan menyambung titik lemah yang menurutku signifikan, aku mengambil kesimpulanku sendiri tentang mengapa band-band indie kota Solo ini seperti stagnan.
The BAND.
Tak banyak group band yang benar-benar tau tentang apa yang sedang mereka kerjakan. setiap karya yang mereka bikin lebih sering dilakukan secara insting atau Rivalitas. dari pengalamanku selama 10 tahun di dunia rekam merekam, hanya sedikit band yang menyadari tentang arransemen apalagi tata suara. bisa dikatakan hanya 20 persen saja yang tahu sedikit tentang arransemen dan 10 persen saja yang tau sedikit tentang tata suara. Hasilnya, banyak grup band indie yang musiknya ngelantur kesana sini, mencampur adukkan semua genre musik, tak perduli tentang konsep, asal aku senang ya itulah musikku!.. dan mereka berharap orang lain untuk mengapresiasinya.. hemm cukup egois.. hehehe.




Tak ada salahnya berpikiran tentang inilah musikku!!!… bahkan itu sebuah prinsip yang baik… hanya kita musti tahu tentang musik yang sedang kita kerjakan dan kepada siapa kita berharap musik itu akan di apresiasi.Banyak grup band yang sebenarnya cukup talented tapi tak perduli dengan sekitar. So yang terjadi seringkali musiknya tidak cocok dengan habitat kota ini. Jadi mulai sekarang perbaiki cara berfikir dan perilaku saat biikin karya. OK!
The EO.
What so called EVENT ORGANIZER!!!!… Wadah yang seharusnya menjadi ujung tombak para musisi dalam memenuhi kebutuhan hidup bermusik mereka… yang sering terjadi malah sebaliknya… seperti pagar yang makan tanamannya sendiri.. ” gue punya event bagus nih, grup band dari ibu kota, mau ga jadi grup pembuka, bea nya kalo ama saya 400 ribu, itu dah bagus lo.. jarang ada kesempatan manggung seperti ini.. belum tentu seumur hidup sekali…” dan FUCK FOR ALL BAND THAT ACCEPT THE OFFER!!!.. kerusakan mental ini mesti di basmi.. bukannya ngga mau tau kalo EO butuh fresh money untuk operasional, tapi bukankah karena itu ada Event Organizer? Organized your mentality as an EO!! Terima kasih untuk EO yang berani membayar band untuk setiap acara yang mereka bikin!! Well tidak semua tentang uang.. saat berderet-deret grup band yang jadi pembuka, mereka itu ibarat object pelengkap penderita yang akut!.. bayar, baru perform satu lagu udah di kode untuk selesai setelah lagu berikutnya, di teriaki penonton biar cepet turun, kalo sial bisa dilemparin botol! dan semua itu demi kepentingan sang Event Organizer!!! Malangnya nasib grup band Indie kota ku!!.. Please for all Local EO kota Solo… Help the BAND TO SURVIVE!!
The Sponsor.
Entah Kapan Ide ini berkembang, tetapi ini benar-benar menyusahkan!!! Bapak dan Ibu ‘Penyandang Dana’ yang terhormat (kalo ngga salah itu yang disebut Sponsor), Tolonglah… Even Organizer itu bukan Salesman!!! Mereka itu Event Organizer! bukan penjual rokok sample. Tunjukkan niat baik untuk mensupport perkembangan musik kota ini dengan sungguh-sungguh! seperti masa-masa tahun 80-90an awal… konsep sponsorship dengan memberikan barang dagangan itu ngga bener menurutku.. karena EO selalu berakhir memakan tanamannya sendiri karena ngga ada support value yang cukup. dan akhirnya justru barang dagangan itu yang seharusnya jadi titik keuntungan bagi EO malah dinikmati lebih secara individual atau bahkan perorangan! So Not Fair!!! Sebagai pihak penyandang Dana.. tolonglah untuk tidak menggunakan EO Musik demi keberhasilan penjualan,bukankah mereka itu berada di posisi promosi… bukan penjual barang?
The Crowd.
Sisi paling melemahkan bagi perkembangan musik di kota ini, meskipun sebenarnya sisi inilah yang akan bisa membangkitkan kelesuan musik indie kota ini, MASYARAKAT DAN APRESIASINYA TERHADAP MUSIK INDIE. Tak banyak kata yang bisa ku katakan … tapi kalo pengen musik indie kota ini bangkit! harus di mulai dari apresiasi dan penghargaan masyarakat kota ini kepada musik indie.
Masih belum bisa ngerti kenapa begitu sulit menerima karya anak-anak mereka sendiri, karya teman-teman mereka sendiri, karya sanak saudara mereka sendiri, karya warga se kota sendiri dan menyambutnya dengan sebuah apresiasi untuk terlibat dalam perkembangannya. Kepada warga KOTA SOLO KU TERCINTA… DENGAN SELURUH PERASAANKU.. PLEASE! PLEASE! PLEASE!.. AYO KITA BANGKITKAN MUSIK KOTA INI DENGAN MENGAPRESIASIKAN PENGHARGAANMU SECARA NYATA!! DUKUNGLAH KARYA CIPTA MEREKA! TEMAN-TEMAN KITA!. sadari kalo kita lah yang diingini para sponsor untuk hadir dan membuat sebuah event berhasil!!
The City gov.
Cukup prihatin juga saat banyak tempat public space yang dulu bisa dijadikan untuk pentas, kini dilarang digunakan. buat pak wali yang saat ini (Jokowi)… Salut atas kinerja anda.. tetapi tolong pak bantu kami anak-anak indie yang mencoba berkarya cipta sendiri ini untuk mengapresiasikan musik kami ke masyarakat.Mungkin dengan membuat sebuah open space di tengah kota yang bisa digunakan untuk kami menunjukkan karya kami.
LINGKARAN SETAN.
Ibarat jam dinding maka jarumnya kan bergerak ke kanan. Angka 12 adalah Masyarakat, angka 3 adalah BAND, angka 6 adalah EO dan angka 9 adalah Sponsor, dan mestinya sesuai pergerakan jarum jam adalah, masyarakat yang butuh hiburan mengapresiasi band sebagai pengibur, yang membutuhkan EO untuk mengatur sebuah acara yang didatangi mayarakat dan memberi penghasilan pada band, dimana EO membutuhkan Sponsor untuk menjadi penyandang dana demi promosi yang diinginkan atas kehadiran masyarakat pada acara yang diadakan oleh EO dan mendapat penghasilan dan bagi sponsor jelas keuntungannya adalah sebuah promosi yang menjadi ujung tombak penjualan.
Tetapi saat ini jarum jam itu bergerak ke arah sebaliknya, Masyarakat yang tak peduli anak band indie, membuat sponsor malas bikin event indie, Eo kesulitan untuk mendapatkan penyandang dana dan memakan tanamannya sendiri dengan membebani band indie, band indie adalah pelengkap penderita akut! karyanya tak di apresiasi masyarakat,bila ingin tampil harus membayar pajak dari EO yang ngga kompeten, limitasi performing dengan resiko tertinggi.
WHAT THE HELL IS GOING ON HERE IN MY SOOO BELOVED TOWN!!… TANPA KALIAN MASYARAKAT KOTA SOLO… MUSIK LOKAL KOTA INI NGGAK AKAN BISA MAJU… AYOO TERLIBATLAH, APRESIASIKANLAH DAN DUKUNG ANAK2 INDIE!!!

komentar

Poskan Komentar

About

my logo

my logo

My Playlist

Pages

Blog Archive

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini