Membuka Visi Baru Pendidikan Musik

Senin, 24 Mei 2010 komentar
Soprano, Delima Simamora bersama Pianis Alferd Rony Situmorang tampil membawakan "Konigen in Der Nacht" karya komposer WA Mozart pada pertunjukan "Music Fest 2008" di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Haus.
usik bagi sebagian masyarakat dianggap belum layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup karena tidak mempunyai prospek yang cerah.

Akibatnya, pendidikan formal musik jarang dilirik sebagai pilihan masa depan anak. Orangtua lebih memilih jurusan lain, seperti kedokteran, teknik, ekonomi, dan hukum, yang dianggap lebih menjanjikan secara materi pada masa depan.

Melihat kondisi itu, Conservatory of Music, Universitas Pelita Harapan (UPH) mencoba memberikan pandangan baru terhadap paradigma lama masyarakat lewat acara Music Fest 2008 yang berlangsung di Goethe Haus.
"Selama ini, masyarakat mempunyai informasi yang kurang tepat tentang pembelajaran musik, inilah yang coba didobrak UPH," kata ketua panitia UPH Music Festival, Jack Arthur Simanjutak.
Menurut Jack, kesempatan berkarier di dunia musik masih terbuka lebar, sedangkan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan itu, masih rendah. Sebab itu, UPH menyadari pentingnya pendidikan formal di bidang musik. Conservatory of music yang didirikan sejak tahun 2000 diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam perkembangan musik Indonesia dengan menghasilkan musisi yang berkualitas, dan profesional.
Hingga sekarang Conservatory of Music UPH, telah mempunyai 12 program studi, di antaranya Music Theraphy, Music Education, Church Music, Performing Arts Production and Management dan jurusan Sound Design yang baru dibuka.

Pada kesempatan yang sama, sejak pukul 13.00 hingga 19.00 WIB, beberapa pelaku industri musik ternama Indonesia, didaulat bergantian membedah perkembangan musik dari masa lalu hingga prospek musik pada masa mendatang. Hadir di antaranya, Conductor Twilite Orchestra, Addie MS, Presiden Direktur (Presdir) Deteksi Production Harry Koko Santoso, dan Manager grup "Ada band", Adam Anugerah.
Menurut Harry Koko, sebenarnya, sejak lama perkembangan musik di Indonesia sudah maju, tak heran jika pada masa depan industri musik Indonesia cukup menjanjikan.
"Industri musik paling cocok, karena infrastruktur seperti penggemar, label, dan studio sudah tersedia tinggal dikembangkan," katanya.

Presdir penyelenggara ajang musik terbesar "Soundrenaline" itu, mengatakan, untuk menghadapi perkembangan musik pada masa depan diperlukan pendidikan formal musik, sehingga se- orang musisi dapat memberikan satu perencanaan yang baik. Melalui pendidikan formal, seorang musisi akan lebih mudah menentukan prioritas. "Banyak band-band terkenal yang hanya kuat bertahan satu tahun, penyebabnya karena tidak memiliki perencanaan yang kuat," katanya.

Harry menambahkan, pendidikan formal memang diperuntukan mereka yang mampu secara materi. Tapi bagi yang tidak mampu, jangan merasa pesimistis bila tidak mengikuti sekolah musik.
"Bagi mereka yang mampu sebaiknya ikuti sekolah musik," ujarnya.
Senada hal itu, Addie MS mengatakan, pendidikan formal bagi seorang musisi juga harus diimbangi dengan pendidikan di luar sekolah.
"Dalam musik yang terpenting adalah ilmunya, dan salah satunya lewat sekolah formal," kata suami penyanyi Memes itu.


Konser Musik

Rangkaian Music Fest 2008 ditutup dengan pertunjukan musik klasik yang dibawakan beberapa staf pengajar Conservatory of Music UPH. Malam itu, sekitar seratus penonton yang hadir disuguhkan karya-karya komponis besar, seperti Beethoven (1777-1827), G Faure (1845-1924), Schubert (1797-1828), Mozart (1756-1791), dan Rachmaninoff (1873-1943).
Kolaborasi tiga alat musik, piano, clarinet, dan cello membuka pertunjukan membawakan karya Beethoven, Clarinet Trio In Bb-Major, Op.11. Pada penampilan kedua, tepuk tangan penonton semakin riuh ketika Mamoru Yabuki dan Mina Yamauchi berduet dalam satu piano menunjukkan kelincahannya membawakan Le Pas Espagnol karya Faure.

Keheningan di ruangan Goethe Haus, terasa semakin mencekam ketika tempo suara piano Johannes Nugroho berubah tiba-tiba, dari lamban, cepat, kemudian lamban. Komposisi musik yang diinspirasi dari puisi karya Victor Hugo, Mazzepa yang dibawakan Johannes benar-benar menghanyutkan suasana hati penonton. Berbeda dengan Johanes, alunan gitar Benny M Tanto, penonton diajak ke dalam suasana semarak. Irama cepat bergaya Spanyol dimaikan Sevilla saat membawakan karya komposer Albeniz (1860-1909).
Karya R Schumann, dari Quintett in Eb-major, Op 44 yang dibawakan pianis Alfred Rony Situmorang, bersama tiga pemain biola dan satu pemain cello akhirnya menutup seluruh rangkaian Music Fest 2008.
Mengenai konser tersebut, Benny mengatakan antusiasme penonton terhadap konser musik klasik di Indonesia semakin berkembang. Konser musik klasik yang selama ini dipandang eksklusif, lambat laun sudah mulai terkikis

komentar

Poskan Komentar

About

my logo

my logo

My Playlist

Pages

Blog Archive

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini